Rabu, 19 Januari 2011

Bagaimana Cara Menyelamatkan Keceriaan Mereka?

Sangat ceria wajah para anak-anak kita yang masih di taman kanak-kanak. Wajah mereka sangat polos, tanpa beban. Tidak ada peroalan hidup yang terlintas. Yang dinginkan tiap hari adalah keceriaan dan kebahagiaan. Mereka hidup penuh permainan, penuh kegembiraan. Tapi pernahkah kita ber[ikir sejenak bahwa mereka inilah pemimpin bangsa dalam 30 atau 40 tahun mendatang. Jika kita salah mendidik mereka maka kita bertanggung jawab pada rusaknya bangsa dalam 30 tahun mendatang.



Ketika memasuki sekolah dasar, para anak-anak kita masih memperlihatkan kegembiraan tanpa henti. Walaupun orang tua tiap hari bergelut dengan sejumlah permasalahan, mereka tetap ingin melewati hidup dengan sejumlah kegembiraan. Kalau perlu hari esok selalu lebih indah dari hari ini. Merakalah yang akan menentukan nasib bangsa dalam 30-an tahun mendatang.



Memasuki SMP, sebagian masih ceria. Namun, beberapa anak kita mulai merasakan betapa hidup tidak selamanya seprti yang dirasakan pada masa-masa TK dan SD. Bahwa hidup tidak selamanya indah seperti yang dihadapi dulu. Ada kalanya masalah yang dialami orang tua, ikut dirasakan oleh anak. Masalah ekonomi merupakan masalah utama yang dirasakan anak. Keterlambatan pembayaran sekolah, ikut kerja membantu orang tua mulai sering dialami oleh sebagian anak-anak. Harusnya ini tanggung jawab Negara (sesuai dengan amanat UUD). Tapi apa daya, ini Negara Indonesia. Antara peraturan dan realitas sering tidak sejalan.




Memasuki masa SMA, makin banyak siswa yang ikut menanggung beban hidup keluarga. Sekolah tidak lagi menggambarkan keceriaan. Sekolah adalah keterpaksaan. Bahkan sebagian keluar dari sekolah untuk ikut mencari nafkah. Masa depan sebagai manusia cerdas hilang sudah. Yang penting bias bertahan hidup. Bisa makan minimal sekali sehari sudah suatu kesyukuran. Betapa keceriaan saat TK dan SD tidak berbekas lagi.



Lulus SMA, kurang dari 50% anak-anak yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Pergurauan tinggi hanyalah tingkat pendidikan yang ada dalam khayalan. Sangat sulit untuk dijangkau. Sebagai contoh, di Kabupatan Karawang, Jawa Barat, hanya 20-25 persen lulusan SMU yang melanjutkan kuliah. Sisanya bekerja dan menganggur. Kebanyakan bidang kerja yang dilakoni adalah kerja dengan gaji sangat murah, seperti buruh pabrik, penjaga toko, dll. Ini sangat miris.



Data yang makin miris tercermin dalam Angka Partisipasi Kasar (APK) pendikan. Di Jawa Barat, APK pendidikan SMA/SMK hanya mencapai 52 persen. Artinya hanya 52% anak usia SMA/SMK yang bersekolah, sedangkan 48% tidak bersekolah. Dan dari 52% yang bersekolah ini, hanya 20-25% lulusannya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini artinya, persentase penduduk usia perguruan tinggi yang kuliah hanya 52% x (20-25)% = 10 – 12,5%. Jadi dari 100 orang di Jawa barat yang berusia antara 18-24 tahun, hanya 10-13 orang yang kuliah.

Mari kita berbuat semampu kita, sekecil dan se-sepele apa pun untuk menyelamatkan anak bangsa ini. Jika tidak kita hanya akan mewariskan generasi lemah, tanpa kekuatan, dan pasti terpinggirkan dalam pergaulan internasional.

Senin, 15 November 2010

Semangat Berkurban Modal Penting Membangun Peradaban

Hadirin sidang shalat ied yang dirahmati Allah Swt
Pada hari ini, 10 Zulhijjah 1431 H, kita menunaikan ibadah shalat iedul adha sebagai bentuk manifestasi penyerahan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Swt. Pada saat yang sama, saudara-saudara kita dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Makkah al-Mukarramah, memenuhi panggilan Allah Swt, Tuhan Alam semesta, untuk menunaikan ibadah haji. Mudah-mudahan ibadah haji saudara-saudara kita itu diterima Allah Swt dan mereka kembali dengan selamat ke negara maupun daerah masing-masing dengan predikat haji mabrur.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Bagi sebagian dari kita shalat Iedul adha dan berkurban yang kita lakukan kali ini adalah yang kesekian puluh kalinya. Tetapi, pernahkah kita bertanya pada diri kita masing-masing, apakah ibadah yang telah puluhan kali dilakukan ini hanya sebuah rutinitas tanpa makna bagi kehidupan kita? Sudahkah kita mengambil pelajaran berharga di balik pelaksanaan ibadah tersebut untuk semakin meningkatkan kualitas kehidupan kita berupa peningkatan ketaqwaan kepada Allah Swt?

Apakah makna iedul adha telah dipahami dengan baik oleh hati kita? Telahkah jiwa kita menyadari bahwa di balik pelaksanaan iedul adha ada perintah berkurban untuk sesama? Telahkah kita menyadari betapa luar biasanya implikasi pelaksaan kurban bagi hidup kita, baik di dunia maupun akhirat?

Atau justru kondisi sebaliknya yang terjadi? Setelah ibadah hari raya kita jalani, kita kembali ke keadaan dan tingkah laku semula, tanpa sedikit pun terjadi perubahan yang mencerminkan pesan-pesan hakiki iedul adha. Tidak ada perubahan signifikan dalam hidup kita ke arah yang lebih baik. Bahkan tingkah laku kita justru makin jauh dari pesan iedul adha maupun pesan kurban?

Betapa ruginya kita jika kondisi ini yang terjadi. Kita seolah-olah telah melakukan ibadah, tapi ternyata kita tidak mendapatkan apa-apa dari yang telah kita lakukan tersebut. Kondisi ini sama dengan orang yang melakukan puasa (shaum), tetapi tidak ada satupun yang ia dapatkan dari shaumnya kecuali lapar dan dahaga (sebagaimana yang disinyalir oleh hadits Nabi Saw).

Hadirin sidang ied yang dimuliakan Allah
Mari kita bersikap “aji mumpung” di sini. Mumpung kita melaksanakan ibadah iedul adha, sekalian saja ibadah tersebut dilakukan secara totalitas dan penuh makna. Mumpung kita sedang melakukan ibadah ied, sekalian saja kita gunakan untuk mengubah tingkah laku kita sehingga mencerminkan pesan-pesan iedul adha yang hakiki. Mumpung kita sedang melaksanakan ibadah kurban, sekalian saja kita menghisab (menghitung-hitung), sudah berapa besar dan seberapa ikhlaskah kurban yang telah kita lakukan selama ini.

Akibat berbagai kesibukan dan rutinitas tiap hari, kadang manusia lupa merenungi siapa dirinya, apa yang sudah dia lakukan dan peroleh, bagaimana menggunakan yang dia peroleh itu, dan sebagainya. Seolah-olah hati nurani kita tumpul. Karena itu, momen iedul adha seperti pagi ini bisa menjadi waktu terbaik untuk merenungi semua itu, sehingga kita meyakini betul bahwa apa-apa yang kita dapat dan kita pergunakan telah sesuai dengan perintah Allah Swt.


Allaahu Akbar 3x
Maasyiral muslimin rahimakumullah


Momen iedul adha harus menyadarkan nurani kita untuk berkurban. Jangan sekali-kali kita remehkan sikap pengorbanan. Berbagai perubahan besar dalam peradaban manusia lahir dari pengorbanan satu atau beberapa orang. Pengorbanan dan perjuangan Rasulullah Saw dan para sahabat telah mengubah bangsa Arab jahiliyah menjadi bangsa yang dirahmati Allah dalam waktu yang sangat singkat.

Islam menyebar ke seluruh dunia (termasuk di Indonesia) berkat pengorbanan para wali dan penyebar Islam di masa lalu. Kita bisa hidup nyaman di negara merdeka ini adalah buah pengorbanan para pahlawan pendahulu kita. Andaikata pengorbanan itu tidak ada, mungkin hingga saat ini kita masih hidup dalam negara jajahan. Dan kalaupun kita merdeka, pastilah kemerdekaan itu adalah hadiah dari penjajah. Jika ini yang terjadi, maka kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka akan berkurang, karena kemerdekaan didapat dari belas kasihan penjajah.

Sidang ied yang berbahagia
Tokoh-tokoh besar yang “menorehkan” jejak langkahnya dengan tinta emas dalam sejarah dunia adalah orang-orang yang mengisi sebagian besar waktu hidupnya dengan pengorbanan yang luar biasa. Melihat orang-orang sukses, kadang secara terburu-buru kita menilai betapa senangnya hidup orang itu. Seolah-olah semua keinginan mereka bisa dipenuhi dengan mudah. Namun, sesungguhnya, kita lupa bahwa mereka yang sukses itu telah melewati sebagian besar waktu hidupnya di masa lalu dengan berbagai pengorbanan besar, pengorbanan yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Karena memang, tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. Allah berfirman:

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai." (Q.S. Ali Imran, 3: 92)

Meraih kesuksesan tanpa pengorbanan pada dasarnya melanggar sunatullah, hukum Allah, yang pasti dan tetap. Keinginan untuk sukses tanpa pengorbanan sering menggiring manusia melakukan tindakan tercela. Perilaku korupsi yang merongrong negeri ini adalah contoh nyata tingkah laku manusia yang ingin meraih kesuksesan besar di bidang materi tanpa usaha dan pengorbanan yang berarti. Mereka memanfaatkan posisi dan jabatan atau memanipulasi data keuangan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan menjadi haknya. Korupsi adalah tindakan yang secara konsisten menghancurkan umat dan bangsa ini.

Hadirin sidang shalat Ied yang dirahmati Allah
Andaikan dalam diri setiap muslim tertanam jiwa pengorbanan yang tulus, niscaya bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan terbaik di muka bumi ini. Pengorbanan seorang Nabi Ibrahim Saw saja telah mengubah wajah dunia. Memang pengorbanan yang kita lakukan tidak dapat dibandingkan dengan pengorbanan para nabi terdahulu. Tetapi kalau pengorbanan tersebut dilakukan oleh ratusan juta penduduk, dan dilakukan dengan ikhlas hanya untuk mencari ridla Allah Swt, maka hasil yang diperoleh pun insyaAllah menjadi tak terbayangkan dampak positifnya.

Namun kadang kita sangat sulit berkorban atas harta yang kita miliki, meskipun harta tersebut kadang kita peroleh dengan mudah. Kita kadang tidak merasa rugi ketika harta yang kita peroleh digunakan untuk piknik ke luar negeri, menikmati berbagai hiburan mahal, harta benda yang mewah, dan santapan lezat. Sebaliknya, kita kadang merasa sangat rugi jika harta tersebut digunakan untuk kegiatan di jalan Allah Swt, meskipun dalam jumlah yang sedikit. Mari kita renungkan hadits Rasulullah Saw:

”Hati-hati dengan sifat kikir. Sebab sesungguhnya kehancuran umat sebelum kalian diakibatkan kekikiran. Sifat kikir telah mendorong mereka untuk berlaku pelit, lalu mendorong mereka untuk memutus silaturahim dan akhirnya telah mendorong mereka melakukan kejahatan”.

Dan perhatikan firman Allah Swt:

”Dan kepada orang kafirpun, aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah, 2: 126)


Allahu Akbar walillahilhamd
Hadirin sidang shalah ied yang dimuliakan Allah
Mari kita renungkan sepenggal kisah nabi Ibrahim As. agar dapat memetik pelajaran bernilai di dalamnya. Hingga usia senja nabi Ibrahim belum dikarunia anak oleh Allah Swt. Tetapi doa tiada putus tetap disampaikan ke hadirat Allah Sang Khalik, Pencipta jagat raya dan manusia,

”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh “ (QS. Ash Shaffat, 37: 100)

Allah pun menganugerah Nabi Ibrahim As. seorang anak, yang kemudian diberi nama Ismail, pada saat Nabi Ibrahim dalam usia ujur.

”Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“. (QS. Ash Shaffat, 37: 101).

Begitu anak – yang sekian lama dinantikan dan didambakan - lahir, Allah meminta Nabi Ibrahim agar mengorbankan kerinduannya pada sang anak dengan mengasingkan anak dan isterinya ke lembah yang sangat sunyi, gersang dan hampir tanpa sumber penghidupan, yang kemudian hari menjadi Mekkah yang sangat ramai dikunjungi umat manusia setiap saat.

"Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim, 14: 37)

Dan ketika Nabi Ibrahim kembali bertemu istri, Siti Hajar, serta anaknya Ismail yang sudah besar, Allah lalu memerintahkan Ibrarim As. untuk mengorbankan anak kesayangannya itu.

”Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat, 37: 102).

Mari kita bayangkan dan renungkan. Anak yang “diperoleh” dengan susah payah dan didapat pada sisa-sisa hidup Ibrahim itu diperintahkan oleh Allah Swt. untuk diasingkan. Dan ketika Ismail sudah besar, Allah pun kembali memerintahkan agar anaknya itu untuk dikorbankan.

Jika menggunakan logika manusia, maka kita bersimpulan: betapa tidak adilnya Allah. Betapa Allah tidak mengasihi hamba-Nya dengan memberikan cobaan yang bertubi-tubi, sangat berat dan sulit diterima akal sehat. Hanya keimanan, yang kuat dan berkualitas tinggi, yang sanggup menerima semua itu, dan Nabi Ibrahim As. berhasil melewati cobaan demi cobaan itu dengan baik.

Akhirnya sejarah mencatat bahwa peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim As. dan keluarganya yang luar biasa ini merupakan awal lahirnya orang-orang besar, para nabi, yang sangat berpengaruh bagi umat manusia. Dan Nabi Ibrahim As. menjadi bapak para nabi besar itu.

”Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.“ (QS. Ash Shaffat, 37: 119)


Allaahu Akbar 3x
Maasyiral muslimin rahimakumullah
.
Kita pun diminta oleh Allah Swt untuk berkorban. Tetapi pengorban yang diminta tidak sebesar pengorbanan nabi Ibrahim dan para nabi lainnya. Kita hanya diminta untuk menyisihkan sebagian kecil saja yang kita miliki, bukan semuanya. Dalam suasana iedul adha ini Allah Swt meminta kita untuk menyembelih hewan kurban. Permintaan itu tidak akan membuat kita jatuh miskin atau hidup kita menjadi sengsara. Allah memerintahkan ini semata-mata agar kita menjadi manusia yang semakin bertaqwa kepada-Nya. Sungguh Allah Maha Kasih kepada hamba-hamba-Nya.

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Hajj, 22: 37)

Kalau kita bangsa Indonesia ini menyadari begitu pentingnya berkurban, maka dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini, yaitu 235 juta jiwa, bangsa ini menjadi rujukan bangsa muslim lainnya di dunia. Dan bukan mustahil bangsa ini menjadi bangsa paling unggul di muka bumi.

”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran, 3: 92)

Tapi harus kita ingat, sifat rela berkorban harus muncul dari kesadaran diri kita masing-masing, bukan karena imbauan atau perintah. Perbuatan yang dilandasi kesadaran diri akan mengalir dengan spontan dalam kondisi apa pun. Perbuatan yang dilandasi kesadaran tidak mengharapkan apresiasi atau penghargaan orang lain. Dia bisa lahir dalam kondisi terang maupun tersembunyi tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Hadirin sidang shalat ied yang dimuliakan Allah
Saat ini bangsa kita sedang mengalami musibah, yaitu bencana alam, yang bertubi-tubi. Saudara-saudara kita di Wasior, Papua Barat; Mentawai, Sumatra Barat; Jawa Tengah dan DIY sedang diuji oleh Allah Swt dengan bencana banjir, tsunami, dan letusan gunung api. Terpampang di media massa tiap hari kondisi dan keadaan saudara-saudara kita tersebut yang tengah berjuang menghadapi ujian dari Allah Swt tersebut. Apakah nurani kita ikut terketuk? Apakah semangat berbagi muncul dari batin kita? Jika belum, bayangkan jika mereka-mereka yang berwajah pilu tersebut adalah anak-anak kita, orang tua kita, saudara-saudara kita. Masihkah hati kita belum terketuk juga? Jika belum juga, mari kita ingat-ingat ancaman Rasulullah Saw.

“Takutlah terhadap kezaliman, karena kezaliman menyebabkan kegelapan di hari Kiamat. Dan takutlah terhadap kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, serta menjadikan mereka saling bunuh dan melakukan hal yang dilarang” (HR. Muslim).

Perhatikan pula firman Allah Swt berikut:

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa” (QS. Al Lail, 92 : 8-11)

“Dan siapa yang dipelihara dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al Hasyr, 59 : 9)


Allahu akbar 3x walillahilhamd
Untuk adik-adik mahasiswa dan pelajar, hendaklah kalian ingat bahwa nasib bangsa dan umat ini di masa datang ada di tangan kalian. Dalam kurun waktu 20-30 tahun mendatang, kalianlah yang akan memimpin bangsa dan umat ini. Jaya atau hancur leburnya bangsa ini di masa datang akan sangat bergantung pada kalian. Dan bagaimana keadaan serta perikalu kalian di masa depan sangat bergantung pada apa yang kalian lakukan masa kini.

Fakta sejarah dengan jelas membeberkan bahwa orang-orang hebat adalah mereka yang telah melewati masa lalu hidupnya dengan berbagai pengorbanan yang tak terperikan. Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar untuk umat dan bangsa ini di masa datang, maka sejarah hidup kalian sekarang dan selanjutnya harus diwarnai dengan semangat berkorban, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan kalian. Belajar dan bekerja giat dengan mengorbankan sebagian hiburan duniawi, yang berlimpah dan sangat memesona nafsu, saat ini atau mengorbankan sebagian waktu tidur kalian untuk menempa diri adalah sebagian pengorbanan yang kalian lakukan untuk menjadi orang besar di masa datang.

Sadarilah, kalian adalah pemimpin masa depan. Sadarilah bahwa nasib bangsa dan umat ini di masa depan ada dalam genggaman kalian. Kalianlah yang akan menentukan ke mana bangsa dan umat ini akan dibawa. Tidak ada perjalanan mulus untuk meraih cita-cita besar, karena untuk meraih cita-cita besar itu bak menapaki jalan yang mendaki – sulit, penuh onak dan duri, serta jurang di kiri dan kanannya.

Makin besar cita-cita yang ingin diraih maka makin besar pula tantangan yang akan menghadang. Tetapi tetaplah berjalan lurus ke depan dan kuatkan tekad, niscaya keberhasilan akan menanti di depan.

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad (akan sesuatu yang baik), maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal” (QS. Ali Imran, 3 : 159).

”Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf, 12 : 87).

Tidak ada gunung yang tinggi bagi seekor rajawali perkasa.

Mudah-mudahan iedul adha kali ini menjadi awal kebangkitan semangat berkorban bagi kita dalam rangka mewujudkan kejayaan bangsa. Bangsa ini akan menjadi pemimpin di muka bumi jika perintah Allah swt dijalankan secara paripurna.

Hadirin sidang shalat ied yang dimuliakan Allah
Di akhir khutbah ini marilah kita berdoa kehadirat Allah Swt, Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang agar hati kita selalu diingatkan dan dikuatkan untuk tetap mengobarkan semangat berkurban. Berkurban adalah modal penting bagi pembangunan dan perubahan peradaban. Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Rahim selalu memberi petunjuk-Nya yang lurus kepada kita semua, memaafkan dan mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita. Memberi rahmat, berkah dan hidayah-Nya kepada kita semua:

Ya Allah janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, serta anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu, sungguh Engkau Maha pemberi Anugerah
Ya Allah, sungguh Engkau yang mengumpulkan manusia pada hari yang tiada keraguan di dalamnya, sungguh engkau tidak mengingkari janji

Ya Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari ini kami bersimpuh di hadapan-Mu. Kami mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid untuk mengagungkan asma-Mu. Tidak ada yang lain yang kami harapkan kecuali ampunan dan maghfirah- Mu.

Kami sadar, betapa banyak perintah-Mu yang kami abaikan. Betapa banyak larangan-Mu yang kami langgar. Sebagai manusia kami sering lupa pada diri kami, lupa keberadaan kami, dan lupa pada hakikat penciptaan kami. Ya Allah, ampunilah segala kesalahan dan dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dosa para pemimpin kami, dosa saudara-saudara kami. Hanya kepada-Mu lah tempat kami memohon, dan kepada-Mu lah kami semua akan kembali.

Ya Allah, tanamkan dalam jiwa kami semangat berkurban yang tidak kenal henti. Kadang kami begitu kikir untuk mengorbankan apa yang kami miliki di jalan-Mu meskipun sedikit. Kadang kami lebih tergoda oleh bujukan duniawi yang begitu memesona sehingga tanpa ragu-ragu kami mengeluarkan harta yang kami miliki untuk kesenangan dunia semata. Hanya dengan hidayah-Mu hati kami bisa tegar dan istiqamah dalam jalan yang Engkau ridhai.

Ya Allah, Tuhan yang menggenggam jagad raya. Saat ini bangsa kami bertubi-tubi dilanda berbagai bencana alam. Banyak saudara kami yang kehilangan sanak saudara dan harta benda. Sebagian mereka kini berada di tempat-tempat penampungan. Kuatkan dan teguhkan hati mereka ya Allah, agar mereka tetap menyembah dan mengabdi kepada-Mu, semakin dekat kepada-Mu, semakin bertaqwa kepada-Mu. Hanya Engakulah yang bisa menguatkan jiwa-jiwa yang pilu.

Ya Rabbana Tuhan kami, jutaan saudara kami tengah memenuhi panggilan-Mu ke Baitullah, menunaikan ibadah haji. Menjalankan salah satu rukun dalam agama-Mu. Terimalah ibadah haji mereka, ya Allah. Jadikan haji mereka sebagai haji mabrur. Berilah keselamatan kepada mereka hingga sampai ke negara asal atau daerah asal masing-masing.

Ya Allah, kuatkan semangat berkurban pada jiwa semua muslimin dan muslimat. Karena kami yakin hanya dengan semangat kurban yang membara kami bisa membawa umat ini menjadi umat yang unggul dan terbaik di muka bumi ini.

Ya Allah, sungguh kami mendengar seruan kepada iman, maka kami pun beriman, karenanya ampunilah segala dosakami, hapuslah segala keburukan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang shaleh.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami apa yang Engkau janjikan kepada kami melalui Rasul-Mu dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari qiyamat, sungguh Engkau Zat yang tidak mengingkari janji

Ya Allah, anugerahilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka

Ya, Allah kabulkanlah doa dan permohonan kami. Karena Engkaulah Zat Pengabul doa dan permohonan. Amin, ya Allah yaa Rabbal ‘alamin.

Rabu, 09 Juni 2010

Peluncuran buku: KARAKTERISASI MATERIAL STRUKTUR NANO: Teori, Penerapan, dan Pengolahan Data

Pada acara The 3rd Nanoscience dan Nanotechnology Symposium 2010 tanggal 16 Juni minggu depan kita akan meluncurkan buku,

Judul: Karakterisasi Material Struktur Nano: Teori, Penerapan, dan Pengolahan Data
Penulis: Dr. Mikrajuddin Abdullah dan Dr. Khairurrijal
Penerbit: Rezeki Putera, Bandung

Kita akan berusaha meluncurkan buku baru tiap penyelanggaraan simposium tahunan ini. Tahun lalu kita meluncurkan buku Pengantar Nanosains (Penulis: Mikrajuddin Abdullah, Penerbit: Penerbit ITB). Buku yang sekarang berisi pengalaman-pengalaman mengembangkan riset dengan kondisi yang masih belum menyamai kondisi di negara lain yang lebih maju. Kita mencoba mencari alternatif-alternatif termasuk mengembangkan metode sendiri dan membangun peralatan sendiri sehingga riset tetap bisa berjalan. Dengan pendekatan ini, kita masih bisa memberikan kontribusi bagi perkembangan sains dan kita merasa makin percaya diri.

Barangkali ada bapak/ibu yang berminat memesan? Harganya ditaksir Rp 70 ribu per eksemplar.

Selasa, 06 April 2010

Langkah Menuju Keunggulan

Menurut pendapat saya, di antara beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mencapai hasil-hasil unggul (lebih khusus untuk para dosen adalah)

1) Menyediakan tenaga dan waktu ekstra melebihi apa yang dilakukan rata-rata dosen. Kadang menggunakan waktu libur dan waktu di luar jam kerja resmi untuk terus berkarya. Hasil yang lebih besar hanya dapat dicapai dengan meluangkan tenaga dan waktu lebih banyak.

2) Berpikir secara parallel, yaitu kemampuan memecahkan sejumlah masalah pada saat yang bersamaan. Walaupun awalnya sulit, dengan berlatih terus-menerus kita akan memiliki kemampuan berpikir parallel dan dapat mencapai hasil yang beragam secara maksimal pada saat yang hampir bersamaan.

3) Membiasakan diri bekerja dan berpikir dalam kondisi “terganggu” sehingga walaupun kita mendengar rengekan dan tangisan anak atau sambil diajak bermain oleh anak, kita tetap dapat berpikir dan bekerja. Awalnya ini sangat sulit terutama bagi pekerjaan yang menuntut banyak pemikiran. Namun usaha terus-menerus membuat kita dapat bekerja dan berpikir dalam suasana apa pun.

4) Memiliki mental untuk menjadi yang terbaik atau yang pertama.

Kamis, 01 April 2010

Jurnal-Jurnal Ilmiah Gratis: Mau??

Bagi bapak-ibu yang membutuhkan jurnal-jurnal ilmiah secara gratis, silakan buka situs-situs berikut ini. Hampir seribu jurnal ilmiah yang dapat didownload secara gratis. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat bagi riset yang sedang kita lakukan. Semoga tidak ada lagi keluhan kesulitan mendapatkan makalah ilmiah.

1) BENTHAM OPEN publish over 250 peer-reviewed open access journals. .... www.bentham.org/open/

2) Hindawi Publishing Corporation
Hindawi is a rapidly growing academic publisher with 200+ Open Access journals covering all major areas of science, technology, and medicine.
www.hindawi.com

3) Japan Science and Technology Information Aggregator,Electronic
www.jstage.jst.go.jp/browse/

4) Institute of Physics
Makalah-makalah yang diterbitkan IOP dalam satu bulan terakhir gratis untuk didownload.
www.iop.org/

5) Directory of open access journals (DOAJ)
www.doaj.org/

6) Open Journal Systems
pkp.sfu.ca/ojs/

7) BioMed Central
www.biomedcentral.com/

Rabu, 24 Maret 2010

Riset yang Terukur dan Terget yang Jelas

Banyak topik riset yang dilakukan di ITB, namun terlalu tersebar sehingga tidak membawa implikasi besar. Contohnya, riset KK dengan biaya sekitar Rp 50 juta, terlalu beragam topiknya dan terlalu tanggung dananya untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Walaupun dalam kebijakan ITB topik riset sudah dipilih berdaarkan pririotas, tetap saja tiap topik prioritas tersebut menghasilkan sejumlah sebaran subtopik yang kadang tidak terkait satu sama lain. Contohnya topik riset energy terbarukan bisa menyebar menjadi riset energy angin, sel surya, geothermal, energi hidro, biofuel, fuel cell, dan sebagainya. Subtopik-subtopik tersebut kadang sulit diintegrasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih bermakna. Masing-masing hanya sampai pada hasil yang tanggung, walaupun ada berapa yang sampai pada hasil yang luar biasa (saya melihat ini hanya kebetulan, karena sulit dengan biaya 50 juta mendapatkan hasil riset yang luar biasa).

Menurut pendapat saya, perlu sutu kebijakan top-down dimana pimpinan ITB menspesifikasi dengan sangat tajam topik riset mana yang akan diangkat dan memberikan dana yang cukup besar untuk melakukan riset tersebut dengan target yang jelas dan terukur tiap tahunnya. Dipilih topik-topik strategis yang penting bagi bangsa, dan feasible untuk dilakukan oleh civitas ITB dari sisi sumber daya. Kalau perlu dibikin pusat riset khusus untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai ilustrasi, misalnya ITB ingin memiliki kemampuan membuat mobil dalam waktu 5 tahun. Targetnya adalah mobil tersebut harus benar-benar operasional dalam 5 tahun. Dibangun pusat riset pengembangan mobil. Dipilih semacam CEO. Di pusat riset ini, ITB memberikan dana cukup besar dan pusat riset diwajibkan menghasilkan mobil dalam waktu 5 tahun. CEO dan pimpinan pusat riset ini memilah-milah lagi topik riset menjadi riset atas subtopic riset tentang pengembangan komponen-komponen mobil. Misalkan kepada dosen ITB ditawarkan subtopik riset tentang
a) Pengembangan mesin mobil
b) Pengembangan ban mobil
c) Pengembangan kaca mobil
d) Pengembangan chasis mobil
e) Pengembangan lampu mobil
f) Pengembangan sistem elektronik mobil
g) Pengembangan disain mobil
h) Pengembangan aerodinamik mobil
i) Pengembangan suspensi mobil
j) Dll.

Semua bagian ini juga diberi target, baik secara tahunan maupun target final selama 5 tahun. Sehingga dalam waktu 5 tahun, hasil dari bagian-bagian tersebut dapat diintegrasikan menjadi satu mobil yang sudah jalan dan siap diproduksi.

Untuk sementara dipilih beberapa topik saja yang benar-benar sangat mendesak untuk kemandirian bangsa. Tidak memilih topik yang sekedar memenuhi “selera” beberapa orang, tetapi didasarkan pada tingkat keberhasilan serta kebergunan bagi bangsa.

Topik besar lain yang menurut saya perlu kita prioritaskan adalah
1) Pusat Riset Buah-buahan Tropis (Tropical Fruit Research Center)
Tujuan pusat riset ini adalah agar di dunia kita unggul dalam teknologi buah-buahan tropis dan mengalahkan Thailand. Sekarang cukup miris kalau kita ke supermarket, karena hampir semua buah yang dijual adalah buah impor dan kebanyakan dari Thailand. Harusnya kita yang menguasai ekspor buah tropis ke seluruh dunia.

Pada pusat riset ini bukan saja orang biologi/pertanian yang terlibat tetapi juga orang-orang teknik. Karena akan meliputi perancangan alat-alat pengolahan, sensor kematangan buang, packaging, control drainase, control kelembaban, teknologi pupuk, pasca panen, dll.

2) Pusat Riset Energi Matahari (Solar Energy Research Center). Kita adalah bangsa yang dikarunia Tuhan YME energi matahari yang luar biasa, tidak pernah berhenti sepanjang tahun dan arah pancarannya hampir tegak lurus. Pancaran energi matahari di Indoensia sekitar 1,3 kW per meter persegi. Kita ini sudah diberi energi secera gratis sepanjang masa (selama matahari masih hidup) dan tugas kita tinggal menandah energi tersebut.

Banyak daerah di Indonesia yang memiliki intensitas matahari yang sangat tinggi seperti di Nusa Tenggara. Mulai dari Lombok Timur, Sumbawa, Sumba, Floles, Timor hingga pulau-pulau di laut Banda, sinar matahari sangat luar biasa. Sampai saat ini memang efisiensisi sel surya belum terlalu tinggi. Tetapi ini bukan kendala. Kita buat saja panel-panel sel surya yang berukuran besar untuk memenuhi kebutuhan listrik. Kalau perlu pulau-pulau gersang di Nusa Tenggara ditutup dengan sel surya.

Pada saat bersamaan kita melakukan riset sendiri untuk menbuat sel surya dengan biaya murah. Riset energi matahari juga bukan hanya terfokus pada sel surya, tetapi juga pada pengubahan energi matahari menjadi energi termal. Pemanfaatan energi matahari sebagai pengering di gudang-gudang. Perancangan eco-building yang seluruhnya menggunakan energy matahari sebagai penerangan (merancang gedung yang tidak perlu menggunakan lampu di siang hari, tetapi cukup dengan cahaya matahari) dan sel surya sebagai sumber listrik. Dan lain-lain.

Rabu, 10 Maret 2010

Bagaimana Merintis Jurnal Ilmiah

Barangkali ada yang berminat merintis sebuah jurnal ilmiah? Prosedurnya tidak terlalu sulit. Yang pertama tentu saja mengajukan permohonan ISSN ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI. Pengajuan ISSN dilakukan secara online melalui situs http://issn.lipi.go.id. Pada saat pengajuan ini, bahan-bahan yang harus dipersiapkan adalah:

1) Sampul depan jurnal yang akan dibuat. Pada sampul tersebut harus tertera contoh penulisan volume, nomor, dan tahun terbit.
2) Halaman daftar isi.
3) Halaman daftar Dewan Redaksi.
4) Bukti pembayaran biaya administrasi pengurusan nomor ISSN.
5) Mengisi formulir permohonan ISSN

Dokumen-dokumen pada nomor 1) sampai 4) dalam bentuk softcopy. Lebih baik semuanya di-ZIP dalam satu file.

Biaya administrasi ISSN dibayarkan ke
a/n PDII LIPI
No. 070-0000089198
Bank Mandiri Cabang Graha Citra Caraka
Kantor Telkom Pusat, Jl. Gatot Subroto, Jakarta

Tidak sampai satu minggu, PDII LIPI akan mengirimkan ISSN yang diajukan dalam bentuk angka dan barcode. Jurnal siap dijalankan.

Masalah utama dalam penerbitan jurnal bukan pada bagaimana memulai jurnal tersebut, tetapi bagaimana mempertahankan agar jurnal tersebut tetap berjalan. Kendala besar adalah ketersediaan makalah.
Jurnal yang baru lahir tentu belum terakreditas. Para penulis akan berpikir berkali-kali untuk mengirim makalah ke jurnal yang belum terakreditasi karena nilai kum yang rendah. Jurnal tidak terakreditasi hanya memiliki kum 10 sedangkan yang terakreditasi memiliki kum 25. Dan syarat pengajuan akreditasi adalah jurnal tersebut harus telah terbit minimum enam nomor.

Oleh karena itu, para pengelola jurnal harus berjibaku “menyambung nyawa” jurnal tersebut minimal dalam enam nomor pertama.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
1) Para pengelola jurnal termasuk editor menjadi pengisi jurnal tersebut. Mungkin ini akan merendahkan nilai akreditasi, karena penulis jurnal kebanyakan adalah pengelola sendiri. Tetapi apa boleh buat. Itu lebih baik daripada jurnal tidak terbit karena tidak ada makalah. Setelah akreditasi dicapai, berapa pun skornya, mungkin akan mulai ada penulis yang mengirim makalah di jurnal tersebut.

2)“Mengemis” para kolega dekat untuk ikhlas mengirim makalah ke jurnal tersebut. Barangkali mengontak teman-teman di luar negeri yang mungkin memiliki sisa-sisa data yang dapat dijadikan makalah untuk jurnal yang kita kelola.

3) Mengadakan seminar nasional secara rutin dan makalah seminar yang terpilih akan diterbitkan dalam jurnal tersebut. Mungkin para penulis tidak akan keberatan. Jika makalahnya diterbitkan di prosiding seminar nasional, nilai kumnya hanya 10. Jika diterbitkan di jurnal yang kita kelola yang belum terakreditasi, nilai kumnya juga 10. Jadi tidak penulis dirugikan.

Saya kira cuma itu cara yang bisa ditempuh untuk merintis sebuah jurnal ilmiah. Dan memang, memelopori sesuatu itu kadang mudah. Tetapi memelopori sesuatu sampai establish itu sering kali sulit. Banyak batu sandungan dan ujian di sini.

Selamat mencoba.