Senin, 25 Januari 2010

Setelah ITB Journal Terdaftar di Scopus, lalu Apa?


ITB Journal of Science dan ITB Journal of Engineering Science sudah terdaftar di Scopus. Implikasinya cukup bermakna. Makalah-makalah yang terbit dalam ITB J. otomatis terekam secara international, dan kontribusi dosen-dosen ITB dalam bidang sains dan teknolgi dapat dibandingkan dengan dosen-dosen PT lain di luar, dan pada akhirnya posisi ITB dalam riset dapat dipetakan. Banyak orang percaya, rekaman karya pada dosen di Scopus memberi gambaran mutu riset di perguruan tinggi tersebut. Walaupun, Scopus bukan satu-satunya data base publikasi yang ada. Pada acara silaturahmi dengan MWA minggu lalu, Pak Rektor begitu bangga dengan ITB sebagai institusi dengan jumlah rekaman Scopus tertinggi di Indonesia.

Sampai ITB J. terdaftar di Scopus merupakan usaha yang cukup panjang dari pada editor. Namun, yang perlu dipikirkan selanjutnya, setelah terdaftar di Scopus lalu mau apa? Apa sekedar terdaftar begitu saja. Atau kita melakukan langkah besar untuk memanfaatkan fasilitas tersebut guna mendongkrak rekaman riset ITB secara internasional. Walapun ITB menempati posisi tertinggi di Indonesia, namun masih kalah jauh dengan universitas negara tetangga. Kita kalah sangat jauh dari semua universitas di Singapura, kita kalah jauh dari Univ. Sains Malaysia, Univ. Malaya, dan sejumlah univ. lain di Malaysia. Kita kalah sangat jauh dari Univ. Mahidol dan Chulalangkorn. Dalam level ASEAN, kita masih berada cukup jauh di belakang.

Setelah dimati, rekam jejak Scopus beberapa perguruan tinggi di Malaysia dan Thailand diangkat oleh jurnal yang mereka kelola dan didaftarkan di Scopus. Kalau demikian, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama. Mumpung ITBJ telah terdaftar di Scopus, mengapa tidak kita manfaatkan sebebsar-besarnya dengan menggelontorkan banyak makalah untuk diterbitkan di ITBJ.

Untuk mencapai sasaran tersebut, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Memperbanyak jumlah makalah yang terbit dalam ITBJ dan memperbanyak frekuensi penerbitan ITBJ. Jangan seperti saat ini. Terlalu sedikit frekuensi terbitan (2 kali setahun) dan terlalu sedikit jumlah makalah yang diterbitkan (sekitar 5/penerbitan). Pendekatan ini mungkin akan menurunkan nilai akreditasi BAN. Tapi, mari kita lupakan sejenak BAN. Tidak apa-apa, akreditasi ITBJ (oleh BAN) rendah, tetapi kita diakui secara internasional. Kalau ITB teguh dalam pendirian ini dan mampu menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang sedikit menyimpang dari aturan BAN dapat membuat jurnal dikui secara internasional, barangkali BAN akan mengubah beberapa criteria yang berada di daerah abu-abu dan lebih bersifat administrative, bukan substantif (masalah ini pernah saya tulis dalam e-mail yang dulu).

Memotivasi pada dosen untuk menulis makakah untuk diterbitkan di ITBJ. Tatpi kita tetap harus menjaga standar mutu makalah yang diterbitkan. Dengan jumlah dosen hampir 1000, apabila satu dosen menulis minimal satu makalah/tahun di ITBJ maka dalam waktu satu tahun recakam Scopus ITB bertambah 1000 per tahun. Apalagi kalau ada beberapa dosen yang dapat menulis lebih dari satu makalah. Bandingkan dengan tahun 2009 di mana rekaman Scopus ITB kurang dari 200. Saya yakin tidak sulit bagi orang-orang pintar di ITB ini menulis makalah untuk ITBJ satu buah (saja) dalam satu tahun. Yang saya tahu, beberapa teman di MIPA dapat menulis lebih dari sepuluh makalah di jurnal nasional dan internasional dalam waktu satu tahun, walaupun masih mengayomi SKS kuliah dalam jumlah maksimum (hingga 12 SKS/semester).

Memperlancar proses penerbitan ITBJ. Saya masih merasakan proses penerbitan di ITBJ sekarang amat lambat. Hal ini dikatakan pula oleh sejumlah rekan. Sebagai contoh saja, saya submit makalah di akhir tahun 2008. Makalah tersebut sudah diaccept, namun kapan munculnya di ITBJ wallahu alam. Beberapa jurnal di luar sangat menjaga kecepatan proses editorial sejak submit paper hingga muncul di jurnal, minimal dalam versi online. Beberapa jurnal menjanjikan bahwa paling lama 7 minggu sudah ada keputusan akhir tentang makalah tersebut.

Hasil-hasil riset para dosen ITB pasti banyak yang dapat dipublikasikan di ITBJ. Tinggal dibuat strategi bagaimana hasil tersebut bisa menjadi makalah yang siap publikasi. Mungkin ada semacam workshop sehari penulisan makalah secara bersama. Lalu ada workshop sehari review makalah secara bersama.

Agar ITBJ lebih dikenal secara internasional, kita jangan hanya mengandalkan Scopus. Banyak tempat abstracting/indexing lain yang sering digunakan sejumlah jurnal ilmiah. Beberapa diantaranya berikut ini. Advanced Polymers Abstracts, Aluminum Industry Abstracts, CEABA-VtB, Ceramic Abstracts, Chemical & Earth Sciences, Chemical Abstracts (CAS), Compendex, Composites Industry Abstracts, Computer and Information Systems Abstracts Journal, Corrosion Abstracts, CSA Mechanical & Transportation Engineering Abstracts, Current Contents/Physical, Earthquake Engineering Abstracts, Electronics and Communications Abstracts Journal, Engineered Materials Abstracts, Engineering Village 2, Environmental Engineering Abstracts, IEEE Inspec, International Aerospace Abstracts, Institute Materials Business File, METADEX, OCLC, Paperchem, Science Citation Index (Thomson/ISI), Scopus, Solid State and Superconductivity Abstracts, Technology Research Database (CSA), The Engineering Index Monthly, World Ceramics Abstracts.

Demikian sekedar ide

Jumat, 22 Januari 2010

Diagram Bebas Benda dan Gaya Coulomb

Tulisan ini berasal dari Dr. Triyanta yang diposting di milis Dosen Fisika ITB. Mungkin bermanfaat.

Diagram Bebas Benda
Tadi pagi saya melihat di papan pengumuman, sekilas, solusi soal Fisika Dasar. Di situ tertulis istilah diagram gaya bebas. Tulisan itu yang mendorong saya untuk menulis email ini. Saya kira istilah yang dimaksud adalah free-body diagram (ada tanda – di antara kata free dan body).

Menurut saya, terjemahannya yang tepat adalah diagram bebas benda, bukan diagram benda bebas maupun diagram bebas gaya. Di dalam free-body diagram, kita hanya jumpai panah-panah yang menggambarkan gaya yang bekerja pada benda dan titik, pangkal dari panah-panah tsb, yang menggambarkan titik pusat massa benda. Sebenarnya titik itu pun tidak perlu ditandai dengan tegas/jelas karena semua panah tsb berpangkal di titik itu. Jadi diagram tersebut sebenarnya adalah diagram gaya-gaya saja. Tidak ada gambar benda di situ. Oleh karena itu istilah yang tepat adalah diagram bebas benda.

Istilah yang lebih rinci namun terlalu panjang, diagram gaya-gaya bebas benda. Bebas gaya artinya tidak ada gaya, atau resultan gaya (yang bekerja pada benda) sama dengan nol. Jelas istilah itu tidak tepat sebagai terjemahan free-body diagram karena dalam diagram tsb resultan gaya tidak selalu nol. Istilah diagram benda bebas menurut saya juga tidak tepat.

Benda bebas (free body, tanpa ada tanda -) adalah benda yang bebas dari pengaruh lingkungan, resultan gaya yang bekerja padanya nol. Free-body diagram tidak menggambarkan diagram dari benda-benda bebas.

Gaya Coulomb
Mumpung kita akan mulai kuliah Fidas II, saya ingin mengemukakan tentang keterbatasan keberlakuan gaya Coulomb. Kita selalu mengajarkan bahwa gaya ini berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara dua muatan yang saling berinteraksi. Yang mungkin kita lupa menyampaikan ke mahasiswa adalah bahwa sifat berbanding terbalik tersebut hanya berlaku apabila muatan sumber berada dalam keadaan diam (dengan kata lain, apabila kita bekerja dalam kerangka koordinat yang diam terhadap muatan sumber). Muatan tes boleh diam atau bergerak. Jika muatan sumber bergerak, rumus gaya Coulomb tidak seperti yang biasa kita ajarkan. Bentuk eksplisitnya berbeda-beda bergantung pada situasi gerak dari muatan tes maupun muatan sumber. Ini dapat kita peroleh melalui teori relativitas khusus (TRK).

Lebih lanjut, dapat ditunjukkan pula bahwa ternyata gaya Lorentz (qE+qv^B) tidak lain adalah gaya Coulomb yang bekerja pada muatan uji akibat muatan sumber yang bergerak. Ini menunjukkan bahwa gaya Coulomb memang gaya yang paling fundamental dalam sistem antar muatan. Medan magnet B yang muncul di dalam gaya Lorentz tsb berasal dari gerak (kecepatan) muatan sumber dan medan listrik. Medan listrik lebih fundamental daripada medan magnet. Meski TRK diajarkan di TPB, namun tentunya penurunan bentuk gaya Coulomb dalam kasus muatan sumber bergerak tidak bisa diajarkan ke mahasiswa TPB. Di sini saya hanya menyarankan agar mahasiswa diinformasikan tentang keterbatasan keberlakuan gaya Coulomb yang berbentuk ~1/r^2.

Kamis, 14 Januari 2010

Hibah Penelitian Mahasiswa MIPA ITB

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung menyelanggarakan hibah penelitian untuk mahasiswa MIPA untuk tahun 2010. Beberapa ketentuan hibah tersebut sebagai berikut.

Pengusul
1) Mahasiswa S1 FMIPA dari semua angkatan, termasuk TPB.
2) Pengusulan bersifat tim (kelompok). Anggota tim minimal terdiri dari 3 orang dan minimal berasal dari dua program studi di FMIPA. Anggota tambahan bisa berasal dari Prodi di ITB.
3) Tiap tim harus memiliki dosen pendamping dari dalam fakultas MIPA.
4) Satu mahasiswa maksimal hanya boleh menjadi masuk ke dalam dua proposal, sebagai ketua dan anggota tim atau kedua-duanya sebagai anggota tim.
5) Format proposal dapat didownload di http://www.fmipa.itb.ac.id
6) Proposal dimasukkan dalam bentuk hardcopy rangkap 3, warna sampul biru.
7) Batas pemasukan proposal 8 Februari 2010 jam 11.00 di TU FMIPA.

Seleksi
1) Proposal yang masuk akan diseleksi oleh tim yang terdiri dari dosen MIPA yang berasal dari semua program studi.
2) Dari proposal yang masuk akan dipilih 12 proposal yang akan dibiayai dalam kegiatan penelitian mahasiswa FMIPA.
3) Tim peniliai mempunyai kriteria tertentu untuk memutuskan proposal-proposal yang akan dibiaya dan keputusan Tim Penilai tidak dapat diganggu gugat.
4) Pengumuman pemenang hibah tanggal 15 Februari 2010.
5) Penandatanganan kegiatan riset 22 Februari 2010.

Hibah Penelitian
1) Dua belas proposal yang dipilih akan diberi hibah penelitian sebesar Rp 6.500.000,- (enam juta lima ratus ribu rupiah) untuk tiap proposal.
2) Proposal yang tidak dibiayai akan mendapat imbalan Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah)

Penggunan Dana Hibah
Tim boleh mengatur penggunaan dana tersebut secara fleksibel untuk bahan, kegiatan riset, transportasi, akomodasi, sewa alat (selain honor).

Jangka Waktu Penelitian
1) Lama waktu penelitian adalah 6 bulan dimulai dari tanggal penandatanganan kesepakatan riset
2) Pada saat penandatanganan kesepakatan riset, tim akan langsung menerima 40% dana riset.
3) Dana riset sebesar 40% akan diturunkan sekitar bulan ketiga setelah tim menyampaikan laporan kemajuan
4) Dana riset 20% sisa akan diserahkan setelah Tim menyampaikan laporan akhir.

Output Riset
Output Riset Berupa salah satu beriukut ini
1) Laporan penelitian dan satu artikel ilmiah yang dipresentasikan di seminar/jurnal ilmiah atau artikel populer yang dimuat di majalah, surat kabar, dll.
2) Laporan penelitian dan prototype alat
3) Laporan penelitian dan diktat
4) Laporan penelitian dan draft buku atau komik sains/teknologi
5) Laporan penelitian dan software/program
6) Laporan penelitian dan barang/jasa komersil

Seminar
1) Di akhir kegiatan akan diadakan seminar hasil penelitian mahasiswa (sekitar Agustus 2010).
2) Ada penghargaan untuk hasil terbaik

Silakan dimanfaatkan.


Tim Hibah
Ketua:
Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah
Anggota:
Dr.Eng. Khairurrijal
Dr. M. Iqbal Arifyanto
Dr. Santi Nurbaiti
Dr. Hani Garminia
Dr. Prisatuti Wulandari

Trik Mencari Makalah Jurnal Internasional


Riset tidak dapat lepas dari makalah ilmiah yang diterbitkan sejumlah jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Makalah-makalah terbaru yang diterbitkan di sejumlah jurnal dapat menjadi sumber inspirasi atau sumber topik penelitian baru bagi kita dan menjadi referensi yang berguna bagi kegiatan riset yang sedang kita jalankan. Namun, tidak semua makalah yang kita butuhkan dapat kita peroleh dengan mudah. Banyak makalah-makalah yang diterbitkan sejumlah jurnal ilmiah menerapkan biaya langganan yang tinggi dan tidak semua institusi di Indonesia maupun individual melanggan jurnal-jurnal tersebut.

Interaksi saya dengan sesama dosen di ITB maupun di perguruan tinggi lain serta para peneliti dari berbagai instansi riset, tampaknya semuanya menyuarakan “keluhan” yang sama, yaitu kesulitan mendapatkan makalah-makalah terbaru untuk menunjang kegiatan penelitian. Saya pun pernah mengalami hal yang sama dalam beberapa tahun, di mana makalah-makalah yang saya butuhkan sangat sulit untuk didapat.

Junal-jurnal online yang banyak sekali jumlahnya dan berasal dari berbagai penerbit besar dunia hanya memberikan manfaat sedikit bagi kita yanh tidak berlangganan. Informasi yang dapat kita peroleh hanya sebatas abstrak. Selebihnya tertutup sama sekali. Dalam kondisi demikian, usaha yang saya lakukan adalah mengontak teman atau adik kelas yang masih melakukan tugas belajar di luar negeri untuk mendownload dan mengirimkan lewat e-mail. Namun, jika terlalu sering meminta tolong, tentu kita merasa sungkan.

Saya mencoba mencari cara bagaimana cara mendapatkan makalah-makalah yang dibutuhkan dalam riset secara legal, termasuk makalah-makalah yang diterbitkan di jurnal ilmiah berbayar. Setelah mengetahui trik-trik yang diperlukan, saya merasa tidak lagi menghadapi kesulitan berarti untuk mendapatkan makalah-makalah yang saya butuhkan dalam menunjang kegiatan riset maupun pengajaran yang saya lakukan.

Beberapa trik mendapatkan makalah ilmiah saya tuangkan dalam sebuah buku tipis yang saya beri judul "TRIK MENCARI MAKALAH yang DITERBITKAN JURNAL ILMIAH INTERNASIONAL". Mudah-mudahan trik tersebut bermanfaat bagi rekan-rekan dosen, peneliti, makasiswa sarjana maupun pasca sarjana, serta siapapun yang membutuhkan paper-paper tersebut.

Misi yang ingin saya sampaikan adalah jangan kita terlalu banyak mengeluh. Memang pemerintah atau instansi kita belum sanggup menyediakan seluruh kebutuhan kita dalam melaksanakan penelitian, seperti melanggan jurnal-jurnal ilmiah. Tetapi marilah dalam keterbatasan tersebut kita gigih, kreatif dan inovatif mencari cara alternatif untuk menutupi keterbatasan tersebut. Saya berkeyakinan bahwa selalu ada jalan bagi orang-orang yang gigih dan kreatif. Sebaliknya, kebuntuan selalu menghadang orang-orang yang suka mengeluh dan menyalahkan sana-sini.

Bagi yang berminat dengan buku tersebut, silakan kontak saya.

Selasa, 12 Januari 2010

Kenapa Kita Begitu Jorok

Datanglah ke pesta pernikahan atau pesta apa pun yang menyediakan makan berat (nasil dan lauk) dan amati pemandangan di bawah kursi saat acara belum di mulai dan setalah acara makan dimulai. Akan tampak pemandangan yang sangat dramatis. Ketika acara makan belum dimulai, keadaan tampak sangat bersih. Namun ketika acara makan sudah dimulai dan sebagian tamu sudah menyelesaikan santapan, tampak suasana jorok muncul seketika. Kita menjadi seolah-olah malakukan pesta di tempat sampah. Plastik air mineral, kulit pisang dan rambutan, piring berisi makanan sisa, berserakan di mana-mana. Hampir seluruh tempat di bawah kursi tamu berisi sampah. Ketika tamu baru datang, tidak jarang saat berjalan memasuki tempat pesta terpaksa sambil menginjak sampah bekas makanan.

Ketika tamu yang datang lebih awal sudah pulang dan tamu baru menyelesaikan santapan, serakan sampah makin menjadi-jadi. Tapi herannya, para tamu seolah tidak merasa jijik dengan suasana seperti itu. Suasana demikian dianggap hal yang wajar. Saya rasa aneh. Kok kita enjoy dengan kondisi seperti itu ya. Saya sendiri kadang tidak berselera makan ketika menghadiri pesta yang memperlihatkan suasana seperti itu. Untuk menghindari hal demikian, saat ada acara prnikahan, misalnya, saya sering datang lebih awal sehingga mendapatkan kondisi yang masih bersih.

Kondisi seperti ini muncul karena sikap cuek dan tidak mau susah yang sudah membudaya pada masyarakat kita. Bagi penyelenggara mungkin berprinsip, bodoh amat dengan suasana kotor seperti itu, toh tamu akan datang juga. Ngapain saya nambah-nambah pekerjaan. Kondisi demikian pun sudah terbiasa kok. Bagi para tamu mungkin berprinsip, bodoh amat dengan kondisi kotor demikian. Yang penting bukan rumah saya yang kotor. Toh hal seperti ini sudah lazim kok di pesta mana pun.

Saya membayangkan kembali suasana pesta serupa yang saya jumpai selama bertahun-tahun di Jepang. Suasana yang tetap bersih terjaga dari awal hingga akhir acara. Selesai menyantap makanan para tamu membuang sendiri sisa makanannya ke tempat sampah yang sudah disediakan. Penyelenggara pesta menyediakan tempat sampah yang cukup di area pesta yang mudah dijangkau para tamu. Ketika ada sampah-sampah kecil seperti bungkus permen, para tamu yang tidak sempat membuang ke tempat sampah akan memasukkan ke dalam saku baju atau celana atau ke dalam tas untuk nanti dibuang di tempat sampah di rumah. Tidak pernah ditemukan sampah berserakan dan tidak perlu ada petugas kebersihan di situ.

Kita sebenarnya bias juga seperti mereka. Hanya pertanyaanya kita mau atau tidak.

Senin, 11 Januari 2010

Mengikuti Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru ITB 2009/2010

Tanggal 12 Agustus 2009 saya mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru ITB angkatan 2009/2010. Salah satu bagian acara tersebut adalah pengumuman para mahasiswa berprestasi tingkat program studi, fakultas, institut, maupun prestasi dalam lomba-lomba tingkat nasional maupun internasional. Ketika menyebutkan mahasiswa berprestasi tersebut, disebutkan juga dari SMU mana mereka berasal. Yang menariknya begini.

Banyak siswa berprestasi tersebut berasal dari SMU-SMU dari daerah yang hampir tidak pernah kita kenal namanya. Siswa-siswa dari sejumlah SMU di kota besar yang selama ini selalu “diagung-agungkan” sebagai sekolah terbaik, sangat sedikit dan bahkan tidak ada yang menjadi mahasiswa prestasi. Kenapa bisa begini? Padahal SMU-SMU favorit tersebut menyumbang siswa terbanyak di ITB dan secara statistik harusnya mahasiswa prestasi ITB sebagian besar diraih oleh meraka yang berasal dari SMU-SMU favorit tersebut. Tetapi kenyataan berkata lain. Saya coba reka-reka sebagai berikut.

Pertama, SMU-SMU favorit mendidik siswa hanya untuk masuk perguruan tinggi. Siswa-siswa di-treat sedemikian rupa agar bagaimana bisa masuk PT yang diinginkan. Jadi cita-cita para siswa sekedar diterima di PT favorit. Selama SMU mereka hanya sibuk berkutat dengan soal-soal, ikut bimbingan test sampai malam, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak jauh dari usaha untuk lulus SMPTN seperti try out. Mereka belajar “rumus-rumus ajaib” untuk memecahkan soal ujian secara cepat. Dan akhirnya memang mereka berhasil masuk PT yang diinginkan.

Ketika sudah masuk PT di mana pola pengajaran dan pola ujian sangat berbeda dengan di SMU, mereka mulai kelimpungan karena tidak terbiasa. Mereka sudah terlalu lama dan terlalu intens “disiksa” dengan metode-metode “aneh” dalam menyelesaikan soal menjadi bingung ketika harus menyelesaikan soal-soal essay yang menuntut penjelasan logis, runut, dan rasional. Mereka banyak gagal di situ. Bahkan tidak sdikit yang drop out, termasuk yang masuk dengan nilai tinggi.

Kedua, karena selama di SMU mereka sibuk dengan kegiatan penyelesaian soal-soal, mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk berpikir kreatif dalam rangka memecahkan masalah-masalh yang ada di lingkungan sekitar. Mereka tidak terbiasa berpikir seperti peneliti atau inventor yang selalu mengamati dan mencari jawab atas pengamatan terebut. Ketika di PT diadakan lomba-lomba kreativitas sains dan teknologi, banyak dari mereka yang tidak siap. Justru mahasiswa dari sekolah-sekolah daerah yang lebih kreatif karena, mungkin, saat SMU mereka masih memiliki waktu untuk berpikir kreatif.

Ketika Anak Saya Masuk SD di Jepang



Tahun 2002, anak saya yang paling besar, Nisa, masuk SD di Jepang. Tepatnya Teranishi Shogakko, Saijou chou, Higashi Hiroshima-shi, Hiroshima. Jarak sekolah dari rumah sekitar 2 kilometer. Ada beberapa catatan yang luar biasa yang saya peroleh selama anak saya sekolah di situ sampai kelas 3.

Semua siswa berangkat dan pulang sekolah tidak boleh diantar dengan kendaraan. Untuk siswa SD, meraka harus ke sekolah jalan kaki. Untuk siswa SMP dan SMP boleh naik sepeda. Pakaian seragam SD adalah putih biru. Mereka juga memiliki tas seragam berbentuk ransel yang cukup berat. Ransel tersebut didisain sehingga isi di dalamnya tidak basah ketika turun hujan atau salju.

Pertama yang membuat saya agak kasihan adalah bagaimana mungkin anak-anak yang masih kecil pergi sekolah jalan kaki sepanjang 2 km dengan membawa beban berat (ransel dan isinya). Kadang pada saat hujan bawaan ditambah payung dan sepatu hujan. Tega nian orang Jepang ini.

Rupanya ini adalah pembelengguan mental dari awal. Dari awal masuk sekolah anak-anak dituntut untuk memiliki semangat berjuang. Mereka tidak dituntut menjadi anak manja dan cengeng yang sekadar menikmati fasilitas orang tua. Siapa yang tidak mengakui kemakmuran masyarakat Jepang. Mobil bukan lagi barang mewah. Semua rumah memiliki mobil. Jadi tidak ada masalah bagi meraka untuk mengantar anaknya ke sekolah dengan mobil, karena mereka semua memiliki mobil. Tapi aturan memaksa mereka untuk tidak mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan mobil. Biarkan anak-anak mulai mandiri dari awal.

Untuk mengurangi kesulitan anak-anak yang masih kelas satu, biasanya berangkat ke sekolah dalam kelompok-kelompok. Siswa-siswa bertetanggaan rumah membentuk satu kelompok dan kelompok tersebut berangkat ke sekolah secara bersamaan. Mereka sudah menentukan di mana harus berkumpul dan tepat pada jam yang sudah disepakati, semua sudah berada di situ dan berangkat bersama. Yang menjadi pemimpin adalah siswa kelas tertinggi. Mereka jalan beriringan dan pemimpin berada di urutan paling depan dengan membawa bendera kuning. Bendera kuning tersebut dipakai ketika mereka menyeberang jalan. Pemimpin melambaikan bendera kuning di jalan dan serta-merta kendaraan yang lewat berhenti sampai semua anggota kelompok menyebarang jalan.

Jika suatu saat ada yang tidak sanggup lagi menenteng ransel, terutama siswa kelas satu yang berbadan kecil, maka pemimpin harus membawakan ransel tersebut. Pemimpin wajib menjadikan semua anggota kelompok tiba di sekolah secara bersamaan. Dan yang lebih drastis lagi, jika ada anggota kelompok yang tidak sanggup lagi berjalan, pemimpin harus membopong hingga sampai di sekolah.

Agar anak-anak di rumah yang berdekatan bisa berangkat ke sekolah dalam satu kelompok maka pemilihan sekolah di Jepang tidak boleh semaunya seperti di Indonesia. Wilayah terntentu sudah diatur untuk masuk ke sekolah tertentu saja. Tidak boleh siswa suatu wilayah masuk ke sekolah wilayah lain. Ini didukung pula oleh mutu sekolah yang merata. Jadi, sekolah manapun yang dimasuki, mutunya hampir sama. Terlebih lagi, tidak ada ujian untuk masuk sekolah tingkat selanjutnya. Semua lulusan SD akan masuk SMP.

Cara didikan seperti ini sangat berbeda dengan di negara kita. Di negara yang masih "berkembang" ini, anak-anak dididik untuk manja dari pertama kali masuk sekolah. Tiap hari ke sekolah, anak-anak diantar, dijemput, bahkan ditunggu. Anak-anak tidak pernah dilatih untuk mandiri, kerja keras, memiliki jiwa kepemimpinan, bertanggung jawab dan kerja sama. Di Jepang, anak kelas 6 diberi tanggung jawab untuk memimpin kelompok yang berisi adik kelas dan mengambil tanggung jawab jika ada masalah yang dihadapi adik-adik kelas.

Di Indonesia, aturan siapa masuk sekolah di mana juga kacau balau. Semua orang berebutan ingin masuk "sekolah yang katanya elit" walaupun harus menempuh perjalanan lebih dari 10 kilometer dari rumah dan walaupun harus membayar uang lebih. Kadang ini tidak dapat disalahkan mengingat mutu sekolah yang tidak merata. Hanya sekolah-sekolah tertentu saja yang selalu diperhatikan, diblow up, menjadi wakil dalam sejumlah lomba. Sekolah-sekolah pinggiran hanya sekedar untuk menampung siswa usia sekolah sehingga bisa bersekolah. Dengan cara kita memperlakukan pendidikan seperti ini, kita makin jauh tertinggal dari negara-negara lain dalam hal sumber daya manusia. Harusnya kita berubah sejak dulu.