Selasa, 12 Januari 2010

Kenapa Kita Begitu Jorok

Datanglah ke pesta pernikahan atau pesta apa pun yang menyediakan makan berat (nasil dan lauk) dan amati pemandangan di bawah kursi saat acara belum di mulai dan setalah acara makan dimulai. Akan tampak pemandangan yang sangat dramatis. Ketika acara makan belum dimulai, keadaan tampak sangat bersih. Namun ketika acara makan sudah dimulai dan sebagian tamu sudah menyelesaikan santapan, tampak suasana jorok muncul seketika. Kita menjadi seolah-olah malakukan pesta di tempat sampah. Plastik air mineral, kulit pisang dan rambutan, piring berisi makanan sisa, berserakan di mana-mana. Hampir seluruh tempat di bawah kursi tamu berisi sampah. Ketika tamu baru datang, tidak jarang saat berjalan memasuki tempat pesta terpaksa sambil menginjak sampah bekas makanan.

Ketika tamu yang datang lebih awal sudah pulang dan tamu baru menyelesaikan santapan, serakan sampah makin menjadi-jadi. Tapi herannya, para tamu seolah tidak merasa jijik dengan suasana seperti itu. Suasana demikian dianggap hal yang wajar. Saya rasa aneh. Kok kita enjoy dengan kondisi seperti itu ya. Saya sendiri kadang tidak berselera makan ketika menghadiri pesta yang memperlihatkan suasana seperti itu. Untuk menghindari hal demikian, saat ada acara prnikahan, misalnya, saya sering datang lebih awal sehingga mendapatkan kondisi yang masih bersih.

Kondisi seperti ini muncul karena sikap cuek dan tidak mau susah yang sudah membudaya pada masyarakat kita. Bagi penyelenggara mungkin berprinsip, bodoh amat dengan suasana kotor seperti itu, toh tamu akan datang juga. Ngapain saya nambah-nambah pekerjaan. Kondisi demikian pun sudah terbiasa kok. Bagi para tamu mungkin berprinsip, bodoh amat dengan kondisi kotor demikian. Yang penting bukan rumah saya yang kotor. Toh hal seperti ini sudah lazim kok di pesta mana pun.

Saya membayangkan kembali suasana pesta serupa yang saya jumpai selama bertahun-tahun di Jepang. Suasana yang tetap bersih terjaga dari awal hingga akhir acara. Selesai menyantap makanan para tamu membuang sendiri sisa makanannya ke tempat sampah yang sudah disediakan. Penyelenggara pesta menyediakan tempat sampah yang cukup di area pesta yang mudah dijangkau para tamu. Ketika ada sampah-sampah kecil seperti bungkus permen, para tamu yang tidak sempat membuang ke tempat sampah akan memasukkan ke dalam saku baju atau celana atau ke dalam tas untuk nanti dibuang di tempat sampah di rumah. Tidak pernah ditemukan sampah berserakan dan tidak perlu ada petugas kebersihan di situ.

Kita sebenarnya bias juga seperti mereka. Hanya pertanyaanya kita mau atau tidak.

2 komentar:

  1. betul sekali pak..
    saya bingung kalo ngeliat anak itb buank sampah sembarangan...
    anak muda yang diharapkan membangun bagsa ini ternyata hanya untuk membuang sampah pada tempatny susah sekali
    salam kenal Ikhtiar

    BalasHapus
  2. benar juga
    memang kalau orang" dari desa yang biasanya jarang ada tempat sampah membuang sampahnya sembarangan ketika di tempat umum
    ini kebiasaan buruk yg perlu diperhatikan

    BalasHapus