Senin, 11 Januari 2010

Ketika Anak Saya Masuk SD di Jepang



Tahun 2002, anak saya yang paling besar, Nisa, masuk SD di Jepang. Tepatnya Teranishi Shogakko, Saijou chou, Higashi Hiroshima-shi, Hiroshima. Jarak sekolah dari rumah sekitar 2 kilometer. Ada beberapa catatan yang luar biasa yang saya peroleh selama anak saya sekolah di situ sampai kelas 3.

Semua siswa berangkat dan pulang sekolah tidak boleh diantar dengan kendaraan. Untuk siswa SD, meraka harus ke sekolah jalan kaki. Untuk siswa SMP dan SMP boleh naik sepeda. Pakaian seragam SD adalah putih biru. Mereka juga memiliki tas seragam berbentuk ransel yang cukup berat. Ransel tersebut didisain sehingga isi di dalamnya tidak basah ketika turun hujan atau salju.

Pertama yang membuat saya agak kasihan adalah bagaimana mungkin anak-anak yang masih kecil pergi sekolah jalan kaki sepanjang 2 km dengan membawa beban berat (ransel dan isinya). Kadang pada saat hujan bawaan ditambah payung dan sepatu hujan. Tega nian orang Jepang ini.

Rupanya ini adalah pembelengguan mental dari awal. Dari awal masuk sekolah anak-anak dituntut untuk memiliki semangat berjuang. Mereka tidak dituntut menjadi anak manja dan cengeng yang sekadar menikmati fasilitas orang tua. Siapa yang tidak mengakui kemakmuran masyarakat Jepang. Mobil bukan lagi barang mewah. Semua rumah memiliki mobil. Jadi tidak ada masalah bagi meraka untuk mengantar anaknya ke sekolah dengan mobil, karena mereka semua memiliki mobil. Tapi aturan memaksa mereka untuk tidak mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan mobil. Biarkan anak-anak mulai mandiri dari awal.

Untuk mengurangi kesulitan anak-anak yang masih kelas satu, biasanya berangkat ke sekolah dalam kelompok-kelompok. Siswa-siswa bertetanggaan rumah membentuk satu kelompok dan kelompok tersebut berangkat ke sekolah secara bersamaan. Mereka sudah menentukan di mana harus berkumpul dan tepat pada jam yang sudah disepakati, semua sudah berada di situ dan berangkat bersama. Yang menjadi pemimpin adalah siswa kelas tertinggi. Mereka jalan beriringan dan pemimpin berada di urutan paling depan dengan membawa bendera kuning. Bendera kuning tersebut dipakai ketika mereka menyeberang jalan. Pemimpin melambaikan bendera kuning di jalan dan serta-merta kendaraan yang lewat berhenti sampai semua anggota kelompok menyebarang jalan.

Jika suatu saat ada yang tidak sanggup lagi menenteng ransel, terutama siswa kelas satu yang berbadan kecil, maka pemimpin harus membawakan ransel tersebut. Pemimpin wajib menjadikan semua anggota kelompok tiba di sekolah secara bersamaan. Dan yang lebih drastis lagi, jika ada anggota kelompok yang tidak sanggup lagi berjalan, pemimpin harus membopong hingga sampai di sekolah.

Agar anak-anak di rumah yang berdekatan bisa berangkat ke sekolah dalam satu kelompok maka pemilihan sekolah di Jepang tidak boleh semaunya seperti di Indonesia. Wilayah terntentu sudah diatur untuk masuk ke sekolah tertentu saja. Tidak boleh siswa suatu wilayah masuk ke sekolah wilayah lain. Ini didukung pula oleh mutu sekolah yang merata. Jadi, sekolah manapun yang dimasuki, mutunya hampir sama. Terlebih lagi, tidak ada ujian untuk masuk sekolah tingkat selanjutnya. Semua lulusan SD akan masuk SMP.

Cara didikan seperti ini sangat berbeda dengan di negara kita. Di negara yang masih "berkembang" ini, anak-anak dididik untuk manja dari pertama kali masuk sekolah. Tiap hari ke sekolah, anak-anak diantar, dijemput, bahkan ditunggu. Anak-anak tidak pernah dilatih untuk mandiri, kerja keras, memiliki jiwa kepemimpinan, bertanggung jawab dan kerja sama. Di Jepang, anak kelas 6 diberi tanggung jawab untuk memimpin kelompok yang berisi adik kelas dan mengambil tanggung jawab jika ada masalah yang dihadapi adik-adik kelas.

Di Indonesia, aturan siapa masuk sekolah di mana juga kacau balau. Semua orang berebutan ingin masuk "sekolah yang katanya elit" walaupun harus menempuh perjalanan lebih dari 10 kilometer dari rumah dan walaupun harus membayar uang lebih. Kadang ini tidak dapat disalahkan mengingat mutu sekolah yang tidak merata. Hanya sekolah-sekolah tertentu saja yang selalu diperhatikan, diblow up, menjadi wakil dalam sejumlah lomba. Sekolah-sekolah pinggiran hanya sekedar untuk menampung siswa usia sekolah sehingga bisa bersekolah. Dengan cara kita memperlakukan pendidikan seperti ini, kita makin jauh tertinggal dari negara-negara lain dalam hal sumber daya manusia. Harusnya kita berubah sejak dulu.

2 komentar:

  1. Deskripsinya menarik sekali, Pak.
    Betul banget, anak-anak kita mesti dilatih menjadi pemimpin dan bertanggung jawab, ini sebagai bagian dari life-skill mereka.

    Trims untuk berbagi info dan uneg-unegnya, salam dari Kebayoran.

    Saya sendiri editor-online di yppti.org

    BalasHapus
  2. hhaha
    bagus ceritanya
    saya juga semakin mengetri apa arti sekolah
    post yang bagus

    BalasHapus