Senin, 11 Januari 2010

Mengikuti Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru ITB 2009/2010

Tanggal 12 Agustus 2009 saya mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru ITB angkatan 2009/2010. Salah satu bagian acara tersebut adalah pengumuman para mahasiswa berprestasi tingkat program studi, fakultas, institut, maupun prestasi dalam lomba-lomba tingkat nasional maupun internasional. Ketika menyebutkan mahasiswa berprestasi tersebut, disebutkan juga dari SMU mana mereka berasal. Yang menariknya begini.

Banyak siswa berprestasi tersebut berasal dari SMU-SMU dari daerah yang hampir tidak pernah kita kenal namanya. Siswa-siswa dari sejumlah SMU di kota besar yang selama ini selalu “diagung-agungkan” sebagai sekolah terbaik, sangat sedikit dan bahkan tidak ada yang menjadi mahasiswa prestasi. Kenapa bisa begini? Padahal SMU-SMU favorit tersebut menyumbang siswa terbanyak di ITB dan secara statistik harusnya mahasiswa prestasi ITB sebagian besar diraih oleh meraka yang berasal dari SMU-SMU favorit tersebut. Tetapi kenyataan berkata lain. Saya coba reka-reka sebagai berikut.

Pertama, SMU-SMU favorit mendidik siswa hanya untuk masuk perguruan tinggi. Siswa-siswa di-treat sedemikian rupa agar bagaimana bisa masuk PT yang diinginkan. Jadi cita-cita para siswa sekedar diterima di PT favorit. Selama SMU mereka hanya sibuk berkutat dengan soal-soal, ikut bimbingan test sampai malam, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak jauh dari usaha untuk lulus SMPTN seperti try out. Mereka belajar “rumus-rumus ajaib” untuk memecahkan soal ujian secara cepat. Dan akhirnya memang mereka berhasil masuk PT yang diinginkan.

Ketika sudah masuk PT di mana pola pengajaran dan pola ujian sangat berbeda dengan di SMU, mereka mulai kelimpungan karena tidak terbiasa. Mereka sudah terlalu lama dan terlalu intens “disiksa” dengan metode-metode “aneh” dalam menyelesaikan soal menjadi bingung ketika harus menyelesaikan soal-soal essay yang menuntut penjelasan logis, runut, dan rasional. Mereka banyak gagal di situ. Bahkan tidak sdikit yang drop out, termasuk yang masuk dengan nilai tinggi.

Kedua, karena selama di SMU mereka sibuk dengan kegiatan penyelesaian soal-soal, mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk berpikir kreatif dalam rangka memecahkan masalah-masalh yang ada di lingkungan sekitar. Mereka tidak terbiasa berpikir seperti peneliti atau inventor yang selalu mengamati dan mencari jawab atas pengamatan terebut. Ketika di PT diadakan lomba-lomba kreativitas sains dan teknologi, banyak dari mereka yang tidak siap. Justru mahasiswa dari sekolah-sekolah daerah yang lebih kreatif karena, mungkin, saat SMU mereka masih memiliki waktu untuk berpikir kreatif.

1 komentar: