Senin, 25 Januari 2010

Setelah ITB Journal Terdaftar di Scopus, lalu Apa?


ITB Journal of Science dan ITB Journal of Engineering Science sudah terdaftar di Scopus. Implikasinya cukup bermakna. Makalah-makalah yang terbit dalam ITB J. otomatis terekam secara international, dan kontribusi dosen-dosen ITB dalam bidang sains dan teknolgi dapat dibandingkan dengan dosen-dosen PT lain di luar, dan pada akhirnya posisi ITB dalam riset dapat dipetakan. Banyak orang percaya, rekaman karya pada dosen di Scopus memberi gambaran mutu riset di perguruan tinggi tersebut. Walaupun, Scopus bukan satu-satunya data base publikasi yang ada. Pada acara silaturahmi dengan MWA minggu lalu, Pak Rektor begitu bangga dengan ITB sebagai institusi dengan jumlah rekaman Scopus tertinggi di Indonesia.

Sampai ITB J. terdaftar di Scopus merupakan usaha yang cukup panjang dari pada editor. Namun, yang perlu dipikirkan selanjutnya, setelah terdaftar di Scopus lalu mau apa? Apa sekedar terdaftar begitu saja. Atau kita melakukan langkah besar untuk memanfaatkan fasilitas tersebut guna mendongkrak rekaman riset ITB secara internasional. Walapun ITB menempati posisi tertinggi di Indonesia, namun masih kalah jauh dengan universitas negara tetangga. Kita kalah sangat jauh dari semua universitas di Singapura, kita kalah jauh dari Univ. Sains Malaysia, Univ. Malaya, dan sejumlah univ. lain di Malaysia. Kita kalah sangat jauh dari Univ. Mahidol dan Chulalangkorn. Dalam level ASEAN, kita masih berada cukup jauh di belakang.

Setelah dimati, rekam jejak Scopus beberapa perguruan tinggi di Malaysia dan Thailand diangkat oleh jurnal yang mereka kelola dan didaftarkan di Scopus. Kalau demikian, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama. Mumpung ITBJ telah terdaftar di Scopus, mengapa tidak kita manfaatkan sebebsar-besarnya dengan menggelontorkan banyak makalah untuk diterbitkan di ITBJ.

Untuk mencapai sasaran tersebut, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Memperbanyak jumlah makalah yang terbit dalam ITBJ dan memperbanyak frekuensi penerbitan ITBJ. Jangan seperti saat ini. Terlalu sedikit frekuensi terbitan (2 kali setahun) dan terlalu sedikit jumlah makalah yang diterbitkan (sekitar 5/penerbitan). Pendekatan ini mungkin akan menurunkan nilai akreditasi BAN. Tapi, mari kita lupakan sejenak BAN. Tidak apa-apa, akreditasi ITBJ (oleh BAN) rendah, tetapi kita diakui secara internasional. Kalau ITB teguh dalam pendirian ini dan mampu menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang sedikit menyimpang dari aturan BAN dapat membuat jurnal dikui secara internasional, barangkali BAN akan mengubah beberapa criteria yang berada di daerah abu-abu dan lebih bersifat administrative, bukan substantif (masalah ini pernah saya tulis dalam e-mail yang dulu).

Memotivasi pada dosen untuk menulis makakah untuk diterbitkan di ITBJ. Tatpi kita tetap harus menjaga standar mutu makalah yang diterbitkan. Dengan jumlah dosen hampir 1000, apabila satu dosen menulis minimal satu makalah/tahun di ITBJ maka dalam waktu satu tahun recakam Scopus ITB bertambah 1000 per tahun. Apalagi kalau ada beberapa dosen yang dapat menulis lebih dari satu makalah. Bandingkan dengan tahun 2009 di mana rekaman Scopus ITB kurang dari 200. Saya yakin tidak sulit bagi orang-orang pintar di ITB ini menulis makalah untuk ITBJ satu buah (saja) dalam satu tahun. Yang saya tahu, beberapa teman di MIPA dapat menulis lebih dari sepuluh makalah di jurnal nasional dan internasional dalam waktu satu tahun, walaupun masih mengayomi SKS kuliah dalam jumlah maksimum (hingga 12 SKS/semester).

Memperlancar proses penerbitan ITBJ. Saya masih merasakan proses penerbitan di ITBJ sekarang amat lambat. Hal ini dikatakan pula oleh sejumlah rekan. Sebagai contoh saja, saya submit makalah di akhir tahun 2008. Makalah tersebut sudah diaccept, namun kapan munculnya di ITBJ wallahu alam. Beberapa jurnal di luar sangat menjaga kecepatan proses editorial sejak submit paper hingga muncul di jurnal, minimal dalam versi online. Beberapa jurnal menjanjikan bahwa paling lama 7 minggu sudah ada keputusan akhir tentang makalah tersebut.

Hasil-hasil riset para dosen ITB pasti banyak yang dapat dipublikasikan di ITBJ. Tinggal dibuat strategi bagaimana hasil tersebut bisa menjadi makalah yang siap publikasi. Mungkin ada semacam workshop sehari penulisan makalah secara bersama. Lalu ada workshop sehari review makalah secara bersama.

Agar ITBJ lebih dikenal secara internasional, kita jangan hanya mengandalkan Scopus. Banyak tempat abstracting/indexing lain yang sering digunakan sejumlah jurnal ilmiah. Beberapa diantaranya berikut ini. Advanced Polymers Abstracts, Aluminum Industry Abstracts, CEABA-VtB, Ceramic Abstracts, Chemical & Earth Sciences, Chemical Abstracts (CAS), Compendex, Composites Industry Abstracts, Computer and Information Systems Abstracts Journal, Corrosion Abstracts, CSA Mechanical & Transportation Engineering Abstracts, Current Contents/Physical, Earthquake Engineering Abstracts, Electronics and Communications Abstracts Journal, Engineered Materials Abstracts, Engineering Village 2, Environmental Engineering Abstracts, IEEE Inspec, International Aerospace Abstracts, Institute Materials Business File, METADEX, OCLC, Paperchem, Science Citation Index (Thomson/ISI), Scopus, Solid State and Superconductivity Abstracts, Technology Research Database (CSA), The Engineering Index Monthly, World Ceramics Abstracts.

Demikian sekedar ide

Tidak ada komentar:

Posting Komentar