Rabu, 24 Februari 2010

Komitmen dalam OSN dan IMSO





Sejak terlibat dalam kegiatan Olimpide Sains Nasional (OSN) tingkat SD/MI maupun international mathematics and science Olympiad (IMSO), baik sebagai penyusun soal, juri, maupun ketua juri, filosofi yang selalu saya dan anggota tim pegang teguh adalah, jadikanlah sains itu semurah mungkin dan semudah mungkin. Kita menginginkan olimpiade menjadi pemicu kemajuan pendidikan di Indonesia secara bersama. Kita menginginkan olimpiade bisa menjadi motivator bagi sekolah-sekolah di kota dan di pelosok negeri untuk maju mencerdaskan anak bangsa. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, langkah yang kita tempuh adalah soal-soal yang diujikan di OSN dan IMSO harus dapat dikerjakan/dilakukan juga oleh siswa di seluruh sekolah di Indonesia, termasuk sekolah-sekolah terpencil yang sering kesulitan mendapatkan akses fasiltas.

Kami selalu berusaha merancang percobaan sedemikian rupa sehingga alat-alat tersebut dapat diduplikasi oleh sekolah mana saja, termasuk sekolah-sekolah yang ada di tengah hutan. Alat-alat eksperimen dibuat menggunakan bahan-bahan yang dapat diperoleh di lingkungan sekitar. Kalaupun harus beli, maka alat tersebut harus murah namun tetap menarik. Tidak jarang alat eksperimen yang kami rancang dibuat dari mainan anak-anak, peralatan dapur, bahan makanan dan minuman, dan sebagainya.

Ini sebenarnya tantangan yang sulit. Karena ternyata tidak mudah membuat eksperimen yang menarik tapi murah. Kalau kami ingin mudah sebenarnya gampang. Beli kit eksperimen yang dijual di distributor peralatan laboratorium, habis perkara. Tetapi dengan cara ini dijamin bahwa eksperimen tersebut tidak akan bisa dilakukan oleh sekolah-sekolah di daerah terpencil. Hanya sekolah-sekolah di kota besar yang dapat melakukannya. Dan kami tidak ingin demikian. Indonesai bukan hanya kota-kota besar. Pendidikan bukan hanya untuk siswa kota besar. Semua warga Negara dari Sabang sampai Merauke dan Rote sampai Miangas harus mendapatkan pendidikan yang adil.

“Salah satu komitmen yang merupakan harga mati” adalah biaya pembuatan satu set alat eksperimen tidak boleh lebih dari Rp 100.000,- (seratus ribu). Tidak jarang set alat eksperimen yang kami buat berharga kurang dari Rp 10.000,- (sepuluh ribu). Dan kami cukup bangga ternyata beberapa peralatan yang kami buat dalam OSN maupun IMSO dipuji oleh para pembina dari luar negeri ketika mereka mengikuti IMSO. Padahal modal pembuatan alat-alat tersebut hanya puluhan ribu.

Saya berpendapat bahwa, untuk sekolah tingkat dasar dan menengah, kita tidak perlu memaksakan siswa untuk melakukan percobaan dengan alat yang mahal untuk mendapatkan hasil dengan ketelitian tinggi. Yang penting adalah para siswa memahami prinsip ilmu yang diajarkan melalui pengamatan langsung (tanpa ditutut ketelitian). Pengamatan yang lebih teliti biarlah dilakukan di perguruan tinggi.

Kepada para pembina OSN SD/MI dan IMSO, ketika melakukan pembinaan kepada anak-anak peserta kompetisi tersebut, jangan terfokus pada penggunaan peralatan mahal (khusus untuk eksperimen). Coba pikirkan percobaan-percobaan yang bisa dilakukan dengan benda-benda yang mudah didapat di sekitar kita. Hampir dipastikan tidak akan akan ada pecobaan yang menggunakan alat dengan harga ratusan ribu rupiah atau lebih.

OSN tahun ini akan dilaksanakan di kota Medan bulan Agustus dan IMSO akan diadakan di Bali bulan Oktober. Mari kita jadikan olimpiade bukan sekedar ajang yang mengejar medali dan mengangkat prestasi sekolah atau propinsi tertentu. Tetapi kita jadikan sebagai "bench mark" mutu pendidikan kita. Olimpiade kita jadikan sebagai pemicu peningkatan mutu pendidikan di tanah air secara bersama-sama. Olimpiade dijadikan sebagai "competition-driven learning".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar