Rabu, 03 Maret 2010

Riset/Publikasi/Paten: Bukan Sekedar Dana, tetapi Juga Komitmen



Dulu banyak orang mengeluh tidak bisa konsentrasi melakukan riset dan menghasilkan karya ilmiah (publikasi atau paten) karena masih minimnya pendapatan. Pikiran bercabang ke mana-mana karena memikirkan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini disebabkan (kata sebagian orang) gaji (khususnya PNS) tidak mencukupi untuk kelangsungan hidup keluarga satu bulan secara normal. Akhirnya, objekan di luar (dalam rangka mencari tambahan kebutuhan hidup tersebut) dilakoni. Ini berimplikasi pada terbengkalainya kegiatan riset. Tidak ada waktu yang cukup untuk memilikirkan riset, apalagi sampai pada publikasi atau paten.

Hal ini tidak salah. Siapa pun akan menomorsatukan kebutuhan hidup daripada kegiatan penelitian. Apalah artinya makalah ilmiah atau paten kalau anak istri di rumah serba kekurangan. Sangat manuasiawi. Bahwa tidak dapat fokus pada riset hingga tidak menghasilkan produk riset karena penghasilan masih rendah adalah alasan yang dapat diterima. Apalagi dibandingkan dengan negara lain (kita sangat senang membanding-banding, apalagi pembandingan tersebut dapat menyelamatkan kita dari kesalahan) seperti Singapura dan Malaysia, rasio penghasilkan terhadap kebutuhan hidup kita masih kecil.

Saat ini sudah banyak dosen/peneliti yang "makmur". Dosen/peneliti yang dulu masih hidup pas-pasan, kembang-kempis (lebih banyak kempisnya dari pada kembang), sudah mulai mapan. Tetapi tetap saja riset yang mengarah ke publikasi dan peten tersebut sulit keluar-keluar. Pertanyaan yang mendasar adalah, apakah masih relevan alasan mandeknya riset disebabkan karena “hidup masih susah”? Kalau alasannya demikian maka ketika hidup “tidak susah lagi”, riset/publikasi/paten tersebut harusnya keluar. Tetapi malah yang terjadi, banyak sekali orang, ketiga hidupnya makin mapan, justru riset makin mandek. Yang bersangkutan mungkin terlanjut enjoy dengan “pola hidup baru” yang jauh dari riset tetapi mendapatkan penghasilan besar dari situ.

Kalau memang riset mandek disebabkan oleh penghasilkan yang masih rendah, harusnya pada institusi atau fakultas di mana penghasilan stafnya sangat memadai (jauh di atas memadai), riset/publikasi/paten gencar dilakukan. Tetapi kenyataanya tidak demikian. Tempat-tempat yang “makmur” tersebut justru banyak yang minim produk riset.

Yang dapat disimpulkan adalah riset/publikasi/paten bukan hanya urusan kecil besarnya penghasilkan, tetapi berkaitan dengan komitmen. Ada dosen/peneliti yang penghasilannya pas-pasan, tetapi karena memiliki komitmen yang tinggi pada profesinya sebagai dosen/peneliti yang dituntut untuk riset, yang bersangkutan bisa menghasilkan makalah ilmiah dan paten dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya, banyak dosen/peneliti yanh sudah sangat makmur, malah tidak menghasilkan produk riset yang berarti selama karirnya.

3 komentar:

  1. Salut buat Bapak yang sudah memikirkan hal ini. Saya berpendapat, dua-duanya penting. Namun memang komitmen harus ada lebih dulu. Kalau sudah ada komitmen, baru ada ide yang baik, untuk menulis proposal, yang nanti bisa menurunkan dana. Dengan dana yang cukup, barulah kita bisa membuat ide kita jadi nyata, dicoba benar-benar, dan bisa ditulis jadi publikasi yang layak secara ilmiah, bukan sekedar fantasi.

    Salam.

    BalasHapus
  2. Apa kabar pak Mikra? makin mantap aja nih. Betul banget pak pendapatnya. saya hanya mau eksplorasi sedikit soal komitmen, barangkali harus sinkron antara komitmen individu dan komitmen institusi. Kalau sistem dalam institusi tidak mendukung individu untuk menjalankan komitmennya, repot juga. kalau sebaliknya, itu yang sudah pak mikra komentari kan? institusi dah komit untuk menjadi universitas riset, tapi individunya tidak komit.

    Bisa juga kasusnya begini, individu sudah komit, institusi juga komit, tapi prakteknya sistem yang dibentuk belum mencerminkan komitmen tersebut, misalnya proses administrasi yang lambat, tidak memihak pada peneliti, atau kasus lainnya. memang yang ini boleh dibilang minor lah, tapi bisa menjadi sandungan (alasan) untuk (tidak) melakukan riset.

    BalasHapus
  3. Untuk Pak Eko, terima kasih komentarnya. Memang kita sepakat bahwa komitmen adalah kata kunci untuk mencapai tujuan. Seringkali dengan komentmen itu orang orang akan menghadapi sejumlah tantangan dan cobaan. Tetapi, menurut saya, pada akhirnya yang bersangkutan akan sukses.

    Untuk Mursyid-san. Genki desuka? Terbalik komentarnya. Saya lihat di majalah SWA beberapa bulan lalu, fotonya berdiri gagah karena keberhasilan SBM menjadi nomor 1. Omedetou.
    Sama dengan komentar saya di atas, memang komitmen harus kita miliki. Dan seringkali dalam perjalannnya, ketidakmulusan akan selalu muncul. Mudah-mudahan hal tersebut membuat kita makin arif, makin dewasa, dan menyadari bahwa inilah lingkuangan kita, institusi kita, bangsa kita, di mana tidak semua yang kita inginkan dapat dicapai dengan mulus.

    BalasHapus