Rabu, 19 Januari 2011

Bagaimana Cara Menyelamatkan Keceriaan Mereka?

Sangat ceria wajah para anak-anak kita yang masih di taman kanak-kanak. Wajah mereka sangat polos, tanpa beban. Tidak ada peroalan hidup yang terlintas. Yang dinginkan tiap hari adalah keceriaan dan kebahagiaan. Mereka hidup penuh permainan, penuh kegembiraan. Tapi pernahkah kita ber[ikir sejenak bahwa mereka inilah pemimpin bangsa dalam 30 atau 40 tahun mendatang. Jika kita salah mendidik mereka maka kita bertanggung jawab pada rusaknya bangsa dalam 30 tahun mendatang.



Ketika memasuki sekolah dasar, para anak-anak kita masih memperlihatkan kegembiraan tanpa henti. Walaupun orang tua tiap hari bergelut dengan sejumlah permasalahan, mereka tetap ingin melewati hidup dengan sejumlah kegembiraan. Kalau perlu hari esok selalu lebih indah dari hari ini. Merakalah yang akan menentukan nasib bangsa dalam 30-an tahun mendatang.



Memasuki SMP, sebagian masih ceria. Namun, beberapa anak kita mulai merasakan betapa hidup tidak selamanya seprti yang dirasakan pada masa-masa TK dan SD. Bahwa hidup tidak selamanya indah seperti yang dihadapi dulu. Ada kalanya masalah yang dialami orang tua, ikut dirasakan oleh anak. Masalah ekonomi merupakan masalah utama yang dirasakan anak. Keterlambatan pembayaran sekolah, ikut kerja membantu orang tua mulai sering dialami oleh sebagian anak-anak. Harusnya ini tanggung jawab Negara (sesuai dengan amanat UUD). Tapi apa daya, ini Negara Indonesia. Antara peraturan dan realitas sering tidak sejalan.




Memasuki masa SMA, makin banyak siswa yang ikut menanggung beban hidup keluarga. Sekolah tidak lagi menggambarkan keceriaan. Sekolah adalah keterpaksaan. Bahkan sebagian keluar dari sekolah untuk ikut mencari nafkah. Masa depan sebagai manusia cerdas hilang sudah. Yang penting bias bertahan hidup. Bisa makan minimal sekali sehari sudah suatu kesyukuran. Betapa keceriaan saat TK dan SD tidak berbekas lagi.



Lulus SMA, kurang dari 50% anak-anak yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Pergurauan tinggi hanyalah tingkat pendidikan yang ada dalam khayalan. Sangat sulit untuk dijangkau. Sebagai contoh, di Kabupatan Karawang, Jawa Barat, hanya 20-25 persen lulusan SMU yang melanjutkan kuliah. Sisanya bekerja dan menganggur. Kebanyakan bidang kerja yang dilakoni adalah kerja dengan gaji sangat murah, seperti buruh pabrik, penjaga toko, dll. Ini sangat miris.



Data yang makin miris tercermin dalam Angka Partisipasi Kasar (APK) pendikan. Di Jawa Barat, APK pendidikan SMA/SMK hanya mencapai 52 persen. Artinya hanya 52% anak usia SMA/SMK yang bersekolah, sedangkan 48% tidak bersekolah. Dan dari 52% yang bersekolah ini, hanya 20-25% lulusannya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini artinya, persentase penduduk usia perguruan tinggi yang kuliah hanya 52% x (20-25)% = 10 – 12,5%. Jadi dari 100 orang di Jawa barat yang berusia antara 18-24 tahun, hanya 10-13 orang yang kuliah.

Mari kita berbuat semampu kita, sekecil dan se-sepele apa pun untuk menyelamatkan anak bangsa ini. Jika tidak kita hanya akan mewariskan generasi lemah, tanpa kekuatan, dan pasti terpinggirkan dalam pergaulan internasional.

5 komentar: